Sabtu, 23 Juli 2011

Kisah Pembagian Sejumlah Unta


 oleh: Abu Ahmad

Suatu ketika seorang sufi merasa ajalnya sudah dekat.  Beliau ingin sekali tiga orang muridnya mendapat guru yang tepat sepeninggal dirinya. Cara yang ditempuh sang sufi adalah dengan mewariskan sejumlah unta miliknya. Beliau meninggalkan wasiat sebagai berikut:
 “Kepada tiga orang muridku kuwariskan tujuh belas ekor unta milikku. Pembagiannya sebagai berikut. Muridku yang tertua mendapat setengah dari jumlah unta, murid yang tengah mendapat sepertiga, dan murid yang termuda mendapat sepersembilan dari jumlah unta tersebut.”
Begitu sang sufi meninggal dunia dan wasiatnya dibacakan, maka para murid sangat terheran-heran. Sungguh guru mereka membagi warisan dengan cara yang tidak lazim.
Salah seorang di antara murid sang sufi berpendapat, “Sebaiknya kita terus memiliki unta ini bersama-sama.”
Seorang hakim mengusulkan supaya unta-unta itu dijual saja dan uangnya dibagi. Namun, pendapat lain pun muncul: warisan itu tidak sah karena pembagiannya tak dapat dilaksanakan. Para murid sang sufi bingung. Sungguh , mereka telah diberi wasiat agar membagi unta-unta tersebut setepat-tepatnya.

Renungan Singkat tentang Pembagian

  1. Tahukah kamu bahwa wasiat adalah pemberian pesan seseorang yang mendekati ajalnya? Pernahkah kamu mendengar ayat ini: “Diwajibkan atas kamu, jika salah seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, dan ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapaknya dan karib kerabatnya secara ma’ruf; ini adalah kewajiban atas orang-orang yang bertaqwa.” QS Al-Baqarah, 2: 180
  2. Menurutmu, apakah para murid sang sufi akan mendapat unta-unta yang utuh jika pembagiannya seperti wasiat di atas?
  3. Dapatkah kamu menghitung hasil pembagian di atas?

Akhirnya terpikirkan oleh para murid sang sufi bahwa dalam peristiwa ini sang guru hendak memberi perintah terselubung. Merekapun lalu pergi mencari orang yang dapat memecahkan masalah mereka. Sangat banyak orang yang mereka temui, namun semuanya gagal memberikan pemecahan masalah cara pembagian unta-unta tersebut. Akhirnya suatu saat mereka menjumpai menantu Nabi Muhammad yang bernama Ali.
Ali bin Abu Thalib berkata kepada mereka: “Inilah cara pemecahan masalah kalian. Akan kutambahkan seekor untaku kepada unta-unta kalian yang berjumlah tujuh belas ekor. Kini jumlah unta menjadi delapan belas ekor. Ambillah setengah dari jumlah itu, yakni sembilan ekor, dan berikan kepada murid tertua. Murid yang tengah mendapat sepertiga dari jumlah itu, yakni enam ekor unta. Sedangkan murid termuda mendapat sepersembilan dari jumlah unta, yakni dua ekor unta. Nah, jumlah semua unta yang kalian terima adalah tujuh belas ekor. Seekor unta yang tersisa, yakni untaku sendiri, kembalikanlah kepadaku,”
Begitulah. Akhirnya para murid sang sufi menemukan guru baru untuk mereka.

Renungan tentang Allah, Sahabat Nabi dan Kamu

  1. Pernahkah kamu membaca atau mendengar riwayat hidup Ali bin Abu Thalib? Tahukah kamu julukan beliau?
  2. Nabi Muhammad saw pernah mengatakan perumpamaan bahwa beliau adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Menurutmu, apakah arti pernyataan itu?
  3. Allah sangat mengharapkan kita menjadi hamba-Nya yang pandai dan bijaksana. Tahukah kamu bahwa salah satu sifat para utusan Allah (Nabi dan Rasul) adalah fathonah (pandai atau cerdas)? Sukakah kamu menjadi anak yang pandai dan memiliki banyak ilmu?
  4. Maukah kamu belajar dengan rajin dan tekun supaya menjadi pandai?

Bacaan

Al-Qur’an surat 58: 11; 33: 6.

Nukilan Al-Qur’an

“…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi penegetahuan beberapa derajat ….” QS Al-Mujadilah, 58: 11

Doa

“Rabbi zidni ilman warzuqni fahman ….”
“Ya Tuhanku, berilah aku ilmu dan karuniakanlah aku pemahaman…. Amiin ….”

+++++

Keping-keping Mata Uang Lama dan Baru


oleh: Abu Ahmad

Hafsah dan ibunya sedang berbelanja di pasar swalayan. Saat membayar barang belanjaan, Hafsah melihat ibunya menerima uang pengembalian berupa uang yang kelihatan baru.
“Ibu, apakah itu pecahan mata uang yang baru?”
“Yang mana? O, ini. Ya, Hafsah, ini koin mata uang yang baru bernilai lima ratus rupiah.”
“Bu, sebetulnya siapa sih yang mengeluarkan keeping mata uang baru itu? Lalu, apakah keeping mata uang yang lama tidak berlaku lagi?”

Renungan Singkat tentang Uang

  1. Tahukah kamu siapa yang berhak menerbitkan uang?
  2. Menurut kamu, dapatkah setiap orang menciptakan dan mengeluarkan  mata uang sendiri? Mengapa?
  3. Jika sebuah pecahan mata uang baru diterbitkan menggantikan pecahan mata uang yang lama, maka pecahan mata uang manakah yang berlaku? Bagaimana nasib pecahan mata uang yang lama?

Ibu Hafsah tersenyum mendengar pertanyaan putrinya yang penuh semangat.
“Hafsah, penerbit mata uang dalam suatu negara adalah Bank Sentral negara itu. Uang yang kita pakai ini bernama ‘Rupiah’. Mata uang kita ini diterbitkan oleh Bank Sentral negara kita yang bernama Bank Indonesia.
“Jika sudah diterbitkan pecahan mata uang yang baru, maka pecahan mata uang yang lama perlahan-lahan ditarik dari peredaran. Selama masa penarikan itu pecahan mata uang yang lama masih sah berlaku sebagai alat pembayaran.
“O, iya, hal ini ada sedikit kemiripannya dengan penggantian syariat atau aturan yang disampaikan oleh Allah lewat Nabi dan Rasul-Nya kepada umat manusia, Hafsah.”
“Bagaimana kemiripannya, Bu? Hafsah belum tahu.”
“Begini, Hafsah. Pecahan mata uang lama ditarik dari peredaran karena kotor atau rusak setelah dipakai bertahun-tahun. Lalu Bank Sentral menerbitkan pecahan mata uang yang baru. Sedangkan Allah mengganti syariat-Nya sesuai perkembangan umat manusia.”
“Pecahan mata uang lama dan mata uang baru mempunyai kesamaan pada nilainya. Misalnya, pecahan mata uang yang lama bernilai lima ratus rupiah, maka penggantinya juga bernilai lima ratus rupiah. Sedangkan para Nabi utusan Allah mempunya kesamaan dalam pokok-pokok keimanan, yaitu keimanan kepada Allah Yang Maha Esa, Rasul-rasul-Nya dan hari akhir atau hari pembalasan.”
“Jadi, maksudnya semua Nabi dan Rasul memnyampaikan ajaran keimanan yang sama, Bu?”
“Benar, Hafsah. Semua Nabi menyampaikan ajaran yang sama, yaitu tentang keesaan Allah. Cuma syariat para Nabi beberapa kali berganti, sampai tibanya Nabi terakhir yang diutus Allah, yaitu Nabi kita, Nabi Muhammad saw.”

Renungan tentang Allah, Nabi dan Kamu

  1. Menurut kamu, jika Nabi Muhammad saw membawa syariat baru dari Allah, maka bagaimanakah nasib syariat lama yang dibawa oleh para Nabi sebelum Beliau? Masih berlaku atau tidak?
  2. Tahukah kamu beberapa contoh perbedaan syariat Nabi Muhammad saw dengan syariat para Nabi sebelum beliau? Kalau kamu tahu, tolong sebutkan beberapa contohnya! Jika kamu belum tahu, minta tolonglah kepada orang tua atau gurumu untuk memberikan contoh!

Bacaan

Al-Qur’an surat 21: 25; 33: 40.

Nukilan Al-Qur’an

“Tiada kami utus seorang Rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan kecuali Aku. Oleh sebab itu, sembahlah Aku.”

Doa

“Ya Allah Yang Mahamulia, terima kasih telah Kau utus kepada kami Nabi Muhammad saw, Nabi yang lembut hati dan sangat sayang kepada ummatnya. Ya Allah, berilah salam dan shalawat kepada beliau, beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amiin.”

Tanda-tanda dalam Kehidupan


oleh: Abu Ahmad

Ja’far berjalan-jalan bersama ayahnya berkeliling kota. Pemandangan di kota dilahap dengan penuh semangat. Dilihatnya ada taman kota yang ramai, pertokoan, museum, perkantoran, hotel, bank dan kantor-kantor pelayanan masyarakat.
Ada hal yang menarik perhatian Ja’far. Hal itu adalah papan-papan petunjuk. Ada papan yang menunjukkan arah yang harus dituju jika ingin menuju museum. Ada papan yang menunjukkan jarak yang masih harus ditempuh sebelum mencapai perumahan tertentu.
Sungguh, Ja’far ingintahu soal papan-papan itu. Akhirnya Ja’far bertanya kepada ayahnya.
“Ayah, apa sih guna papan-papan petunjuk itu?

Renungan Singkat tentang Tanda-tanda

1.     Ya, tahukah kamu guna papan-papan petunjuk itu? Jika kita ingin mencari suatu tempat, lebih mudah atau lebih sulitkah tempat itu dicapai dengan bantuan papan petunjuk?
2.    Pernahkah kamu merasa jengkel/kesal karena sulit mencari sesuatu? Bagaimana perasaanmu jika ada orang yang memberitahumu  di mana sesuatu itu berada.
Ayah Ja’far menjawab pertanyaan putranya.
“Papan petunjuk itu gunanya untuk memberikan keterangan. Nah, kamu lihat! Papan petunjukyang dipasang di depan kantor itu menunjukkan  nam kantor itu. Papan petunjuk yang mencantumkan jarak yang masih harus ditempuh juga memberikan keterangan. Papan petunjuk yang memberitahukan arah yang harus diambil itu memudahkan orang mencapai tujuan atau supaya orang tidak tersesat.”
“Namun, Ja’far, sesungguhnya Allah pun memasang papan-papan petunjuk di hadapan kita. Papan petunjuk itu disebut ayat-ayat atau tanda-tanda kehadiran dan kekuasaan Allah … “

Renungan tentang Allah dan Kamu

  1. Menurutmu, apa sajakah tanda-tanda kehadiran Allah? Apakah dirimu  juga merupakan tanda kehadiran Allah?
  2. Dapatkah kamu menunjukkan tanda bahwa Allah itu ada? Apa  pula bukti-bukti bahwa Allah Maha Pemelihara?
  3. Bagaimanakah sikap kamu terhadap orang yang meremehkan tanda-tanda kekuasaan Allah?
  4. Tahukah kamu makna pujian terhadap Allah: “Subhana Rabbial A’la wa bihamdihi”? Apakah kamu memuji Allah setiap hari?

Bacaan

Al-Qur’an surat 30: 20 – 26

Nukilan Al-Qur’an
“Dan di antara tanda-tanda-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, dan bermacam-macam bahasa kamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya tentang hal demikian itu menjadi tanda-tanda  bagi orang-orang yang mau tahu.” QS Ar-Ruum, 30: 22.

Doa

“Ya Allah Yang Maha Pemurah, kami mohon kemurahan-Mu untuk memberi petunjuk agar kami memahami tanda-tanda kekuasaan-Mu. Jadikanlah kami , ya Allah, hamba-hamba-Mu yang taat dan selalu berserah diri kepada-Mu. Amiin … “

Selasa, 19 Juli 2011

Penaburan dan Panen Raya


oleh:  Abu Ahmad

Ada tiga orang bertetangga akan menanam bibit tanaman. Pak Luthfi akan menabur  benih jagung, Pak Umar akan menabur benih kacang dan Bu Hindun akan menabur benih cabai.
Benih-benih yang ditanam ternyata tumbuh subur. Mereka tumbuh, berkembang, berbuah masak,  dan buah-buahnya siap dipetik.
Menurut kamu tanaman apakah yang akan dituai oleh Pak Luthfi? Tanaman apa pula yang akan dipanen Pak Umar dan Bu Hindun?

Renungan Singkat tentang Panen

  1. Apakah tanaman cabai akan dituai Pak Luthfi? Apakah tanaman jagung akan dituai Bu Hindun? Mengapa tidak?
  2. Apakah kita selalu menuai jenis tanaman sesuai dengan benih yang kita tanam? Pernahkah kita menanam cabai dan menuai kacang? Mengapa tidak?
  3. Jika kita menabur hal-hal yang buruk dalam kehidupan kita, apakah kita dapat menuai hal-hal yang baik?

Pak Luthfi yang menyemai benih jagung akan menuai jagung, pak Umar yang menanam benih kacang akan mendapatkan kacang. Dan Bu Hindun yang menabur benih cabai akan panen tanaman cabai.
Begitulah, setiap orang akan menuai apa yang ditanam. Anak laki-laki atau anak perempuan yang menanam pikiran buruk akan menuai perbuatan buruk pula. Jika kita menanam benih kejahatan dalam hati dan pikiran kita, maka perbuatan jahatlah hasil buahnya. Namun, hal sebaliknya juga terjadi.
Anak laki-laki dan anak perempuan yang menanam benih kebajikan di dalam hati dan pikirannya akan menuai perbuatan yang baik dalam kehidupan. Nah, perbuatan yang baik inilah yang membuat kehidupan di dunia menjadi indah dan menyenangkan.
Panen seperti apakah yang kamu inginkan?

Renungan Singkat tentang Allah dan Kamu

  1. Menurut kamu, pikiran-pikiran yang bagaimanakah yang diinginkan Allah tertanam dalam hati dan pikiranmu? Pikiran-pikiran macam apa pula yang diharapkan tidak tertanam di dalam hati dan pikiranmu?
  2. Alam akhirat adalah Panen Raya. Di sana setiap manusia akan menuai semua benih tindakan dengan sempurna. Perbuaytan yang baik akan mendapayt ganjaran yang baik dan adil. Perbuatan yang buruk pun akan mendapat ganjaran yang setimpal. Tahukah kamu ganjaran bagi masing-masing perbuatan itu?
  3. Apakah yang kamu mohon kepada Allah dalam penyemaian benih perbuatan?

Bacaan

Al-Qur’an surat 26: 84, 2: 110, 53: 31

Nukilan Al-Qur’an

Dirikanlah shalat dan bayarkanlah zakat! Dan apa-apa yang kamu usahakan di antara kebaikan untuk dirimu, niscaya kamu peroleh pahalanya di sisi Allah…” QS 2: 110

Doa

“Ya Allah Yang Mahamulia, sucikanlah hati kami dan pikiran kami agar lahir perbuatn baik (amal ma’ruf) kami yang Engkau ridhai. Berilah kami petunjuk  untuk menapaki jalan-Mu yang lurus. Amin…”

Penggembala dari Kota


oleh: Abu Ahmad

Hasan senang sekali berlibur ke rumah nenek di Kampung. Nenek Hasan tinggal di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Di sanalah Hasan berjalan-jalan dengan gembira. Ia melihat-lihat suasana kampung bersama saudaranya yang bernama Taufik.
“Ayo Hasan, kita ke sawah. Kita lakukan  apa yang tak pernah kaulakukan di kotamu, Jakarta.”
Ternyata Taufik mengajak Hasan untuk menggembala itik. Hasan juga ditawarkan sesuatu yang lain.

Renungan Singkat tentang Gembala

  1. Pernahkah engkau melihat penggembala hewan ternak? Tahukah kamu bagaimana cara mereka bekerja?
  2. Menurutmu, seperti apakah sifat-sifat seorang penggembala yang baik? Bukankah dia harus sabar, teliti, welas asih dan kuat?
  3. Tahukah kamu, para Nabi yang menjadi penggembala, dan hewan apa yang digembalakan mereka?

Uih…. Hasan menikmati betul perjalanan ke sawah. Taufik menggembala itik dengan trampil. Hasan  menikmati pemandangan di kiri kanan jalan. Dia lihat ada ternak ayam dan sapi. Ih …. Agak bau, memang. Ya, bau kotoran  hewan menyergap hidung. Hasan berjalan sambil menahan nafas jika melewati kandang.
Sampai di sawah, ternyata Hasan ditawari naik kerbau! Amboi … tentu saja sebuah kejutan buat Hasan. Dan tawaran itu diterima dengan senang hati.
Hasan naik kerbau dengan agak canggung. Maklumlah Hasan belum pernah naik kerbau sama sekali selama hidup. Di atas punggung kerbau Hasan bergaya seperti gembala asli. Sambil bergaya, dia berbicara sendiri.
“Alhamdulillah … Allah menciptakan hewan-hewan ternak. Kerbau tyang kutunggangi ini dapat membantu membajak sawah. Sapi dapat diambil dagingnya, susunya, kulitnya. Ayam dapat  diambil dagingnya, telurnya, bulunya. Dan kutahu masih banyak lagi hewan yang dapat diternakkan manusia: lebah, kambing, kelinci, burung, ikan, bahkan ular dan buaya.”
Masih beberapa waktu Hasan asyik berbicara sendiri sebelum dia dihentikan Taufik.
“Hey …. Sedang apa kau? Ayo, kita pulang dulu …. !”

Renungan Singkat tentang Allah dan Kita
01. Allah mencipta hewan ternak untuk manusia. Alangkah sayangnya Allah kepada manusia. Bagaimana menurut pendapatmu?
02.Selain hewan yang diternakkan manusia, banyak hewan lain yang disediakan Allah bagi manusia. Baik hewan yang hidup di air, di darat maupun hewan yang dapat terbang, Tahukah kamu hewan apa sajakah yang sering dimanfaatkan manusia?
03.Sudahkah berterima kasih kepada Allah atas karunia-Nya berupa hewan-hewan ternak dan segala hasilnya? Jika belum, berterima kasihlah saat ini juga. Ucapkanlah: alhamdulillah, segala puji bagi Allah …!

Bacaan

QS 16: 65—69 , 5: 96, 40: 79—81.

Kebenaran Al-Qur’an

Dan sesungguhnya pada hewan ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari sesuatu yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara (kotoran) tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang- orang yang meminumnya.” QS An-Nahl, 16: 66

Doa

“Ya Allah Yang Maha Pemurah, terima kasih atas karunia-Mu yang berasal dari hewan ternak berupa susu, madu, daging, telur, bulu dan kulit mereka. Subhanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu allaahu akbar….!”

Selasa, 12 Juli 2011

Siapa Menjaga Kita


oleh Abu Ahmad

       Bu Aminah sangat senang karena putrinya yang bernama Fatimah telah dapat membantu urusan rumah tangga. Salah satu ketrampilan Fatimah adalah memasak. Pada suatu hari Bu Aminah meminta tolong kepada Fatimah untuk memasak.
Dengan senang hati Fatimah menyanggupi permintaan ibunya untuk memasak. Apalagi yang akan dibuat adalah makanan kesukaannya. Dengan hati senang dan tenang Bu Aminah pergi meninggalkan Fatimah untuk mengurus suatu keperluan. Mula-mula Fatimah mempersiapkan bahan masakan yang akan diolah. Semua bahan itu dicuci. Ada bahan makanan yang diiris tipis, dipotong dadu. Dan ada pula bumbu yang dihaluskan. Setelah semua bahan siap dimasak, dimasaklah semua bahan itu.
Sambil menunggu masakan matang, Fatimah membaca buku cerita. Angin sepoi berembus menyejukkan, membuat Fatimah merasa nyaman dan mengantuk. Akhirnya Fatimah tertidur.
       Betapa terkejutnya Bu Aminah ketika pulang. Dilihatnya Fatimah tertidur pulas dan masakan hangus! Seandainya kamu adalah Bu Aminah, apakah yang akan kamu katakan kepada Fatimah?

Renungan Singkat tentang Menjaga
  1. Kesalahan apakah yang telah dilakukan Fatimah? Apakah yang seharusnya dilakukan Fatimah? Apakah yang terjadi akibat dia tertidur?
  2. Pernahkah ayah atau ibu meminta pertolongan untuk menjaga adikmu selama beberapa waktu? Atau pernahkah mereka meminta menjaga sesuatu? Apakah kamu melakukan tugas jagamu dengan baik?

Tahukah kamu bahwa kita selalu dijaga Allah dan para malaikat-Nya setiap saat. Allah tak pernah mengantuk, tak pernah tertidut sekalipun kita sedang tidur. Beliau senantiasa menjaga kita dengan penuh kasih saying.
Apa yang kamu perbuat kepada-Nya karena Dia menjagamu setiap saat?

Renungan Singkat tentang Allah dan Kita

  1. Apakah Allah pernah mengantuk dan tertidur saat menjagamu? Mengapa tidak? Bagaimana perasaanmu atas karunia Allah berupa penjagaan dan pemeliharaan atas dirimu itu?
  2. Maukah kamu bersyukur kepada-Nya karena Dia  telah menjagamu dengan penuh kasih saying? Maukah kamu berterima kasih sekarang juga? Ucapkanlah: Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamiin… Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam….

 Bacaan

Al-Qur’an surat Al-Baqarah, 2: 255

Nukilan Al-Qur’an

“Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Yang Mahahidup dan Berdiri (memelihara alam semesta), Dia tidak pernah mengantuk dan Dia tidak pernah tertidur. Bagi-Nya apa-apa yang  di langit dan semua yang ada di bumi…. “
QS Al-Baqarah, 2: 255

Doa


“Aku bersyukur  dan berterima kasih kepada-Mu ya Allah, atas penjagaan dan pemeliharaan-Mu terhadapku selama ini. Tolonglah aku, bantulah aku jika aku diminta menjaga sesuatu oleh sesamaku . Amin.”

Si Penjual Kue


oleh Abu Ahmad
       Pak Amir adalah penjual kue di sebuah Taman Hiburan. Pada suatu hari beliau mendapat berita gembira. Putera Pak Amir telah lahir dengan selamat. Tahukah kamu apa  yang dilakukan Pak Amir?
Beliau mengungkapkan rasa syukurnya dengan pergi ke tengah taman dan mengumpulkan orang-orang.
“Pengumuman, pengumuman. Ayo, mari kumpul semua. Hari ini saya mendapat berita gembira. Saya akan membagikan kue dengan gratis. Ayo, siapa berminat silakan ambil.”
Mendengar pengumuman Pak Amir orang-orang ramai berkerumun. Anak-anak sangat berminat untuk mencicipi kue Pak Amir yang terlihat lezat itu. Namun para orang tua menahan anak-anak mereka untuk segera mengambil kue cuma-cuma itu. Mereka menyangka ada yang tak beres. Entah penjual kue, atau kue-kuenya.
Mungkin saja saja kue-kue itu sudah daluwarsa, tidak enak lagi untuk disantap, sehingga dibagikan gratis. Mungkin juga sih kue-kue itu dibagikan gratis sebagai promosi. Tapi, yang jelas mereka tak ingin anak-anak mereka keracunan karena menyantap kue Pak Amir.
       Hanya ada beberapa  anak beserta  orang tua mereka yang mengambil kue-kue itu. Sungguh kecewa hati Pak Amir. Hanya sedikit orang yang menerima tawaran kue gratisnya. Akhirnya Pak Amir membawa pulang kue-kue yang masih cukup banyak.

Renungan Singkat tentang Pemberian Cuma-cuma

  1. Bagaimana perasaan Pak Amir melihat tawaran pemberian kuenya secara Cuma-Cuma hanya ditanggapi sedikit orang? Menurutmu, kepada siapakah kue-kue yang tersisa itu akan dibagikan?
  2. Bagaimana perasaanmu jika kau punya maksud memberikan suatu hadiah istimewa kepada seseorang, namun ternyata orang tersebut tidak mau menerimanya?

Kisah Pak Amir ada persamaannya dengan kisah para Nabi dan Rasul. Para Nabi dan Rasul itu diutus oleh Allah untuk menawarkan kehidupan bahagia kepada  manusia. Namun kebanyakan manusia tidak mau menerima tawaran tersebut.
Bahkan banyak Nabi dan Rasul yang dimusuhi oleh masyarakat pada zamannya. Ada juga Nabi dan Rasul yang dianggap gila, dicaci-maki, diperangi. Juga ada Nabi yang meninggal dunia dalam menjalankan tugasnya.
Menurut kamu bagaimanakah perasaan Nabi dan Rasul yang dimusuhi orang-orang pada masanya?

Renungan Singkat tentang Nabi dan Kamu!

  1. Tahukah kamu nama Nabi kita dan nama julukannya? Pernahkah kamu membaca atau mendengar riwayat hidup beliau?
  2. Bagaimana sikap kaum Nabi kita terhadap Beliau? Bagaimanakah perasaan Nabi kita menghadapi ulah kaumnya?
  3. Menurut pendapatmu, hadiah istimewa apakah yang diberikan Nabi kita  kepada kita? Beliau ingin kita hidup berbahagia dengan pedoman kitab suci al-Qur’an, bukan?
  4. Sudahkah kamu menerima tawaran Nabi untuk menjalani  kehidupan dengan berpedoman kepada al-Qur’an? Kalau belum, bersediakah kamu menerima tawaran Beliau saat ini juga? Marilah kita belajar, membaca, memahami, lalu melaksanakan ajaran kitab suci kita!

Bacaan

Al-Qur’an surat ke-21, Al-Anbiya – Kisah Para Nabi

Nukilan Al-Qur’an

Kami tiada mengutus engkau, melainkan kepada seluruh ummat manusia untuk memberi kabar gembira dan peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” QS Saba’, 34: 28.

Doa


“Ya Allah, Yang Mahapengasih…. Berilah salam dan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad saw beserta keluarga beliau. Semoga kami dapat berjumpa beliau di akhirat kelak. Amin.”

“Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang telah Engkau janjikan untuk kami kepada Rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat; sesungguhnya Engkau tiada memungkiri janji.” QS Ali-Imran, 3: 194.